Tangerang Selatan, [15 Desember 2025] — Pendidikan vokasi memegang peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang kompeten, adaptif, dan berdaya saing global. Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Drs. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D. dalam Talkshow Sekolah Vokasi Universitas Terbuka (UT) bertajuk “Pendidikan Vokasi di Indonesia: Revitalisasi Pendidikan, Pelatihan, dan Orientasi Masa Depan Sekolah Vokasi” yang diselenggarakan di Kampus UT Pondok Cabe, Senin (15/12).
Dalam paparannya, Prof. Ojat menekankan bahwa revitalisasi pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi merupakan amanat strategis nasional yang diperkuat melalui berbagai kebijakan pemerintah, termasuk Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi serta Peraturan Menko PMK Nomor 6 Tahun 2022 tentang Strategi Nasional Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi.
Ia menjelaskan bahwa arah kebijakan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesesuaian antara supply side pendidikan dan pelatihan vokasi dengan demand side pasar kerja, memperkuat peran dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja (DUDIKA), serta membangun sistem koordinasi vokasi yang terintegrasi dari tingkat pusat hingga daerah.
“Pendidikan vokasi harus berorientasi pada kebutuhan nyata dunia kerja, berbasis kompetensi, dan dilaksanakan melalui kolaborasi semua pemangku kepentingan. Tanpa itu, lulusan akan sulit bersaing di tengah dinamika pasar kerja global dan revolusi industri,” tegas Prof. Ojat.
Lebih lanjut, Prof. Ojat memaparkan bahwa produktivitas tenaga kerja Indonesia masih menghadapi tantangan, meskipun menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Setiap tahun, jutaan angkatan kerja baru memasuki pasar kerja, termasuk lulusan pendidikan menengah dan tinggi yang memerlukan penguatan kompetensi agar dapat terserap secara optimal oleh industri. Pada kesempatan tersebut, Prof. Ojat juga menyoroti potensi strategis Sekolah Vokasi Universitas Terbuka melalui pemanfaatan teknologi digital dan penerapan konsep Multi-Entry Multi-Exit (MEME). Konsep ini memungkinkan peserta didik masuk dan keluar dari program pendidikan pada berbagai titik tanpa kehilangan capaian pembelajaran, serta mendukung prinsip pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning).
“Model MEME sangat relevan bagi pekerja, masyarakat di daerah terpencil, maupun mereka yang ingin belajar sambil bekerja. Universitas Terbuka memiliki posisi yang sangat kuat untuk mengembangkan vokasi berbasis digital dengan skema ini,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa penerapan MEME perlu didukung dengan modularisasi kurikulum, pengakuan pembelajaran lampau (Recognition of Prior Learning), sistem penjaminan mutu yang konsisten, serta pengakuan industri terhadap sertifikat kompetensi bertahap.
Melalui talkshow ini, Sekolah Vokasi Universitas Terbuka diharapkan dapat memperkuat perannya sebagai institusi pendidikan vokasi yang inklusif, fleksibel, dan responsif terhadap kebutuhan pasar kerja, sekaligus berkontribusi nyata dalam mendukung agenda nasional revitalisasi pendidikan vokasi dan peningkatan kualitas SDM Indonesia.